“Kalian seharusnya lebih berhak untuk merindukan beliau shallallahu’alaihi wa sallam.” Hasan Al-Bashri rahimahullah
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam adalah pribadi yang
tidak hanya dikagumi, dan dirindukan oleh para sahabat, dan umatnya
sepeninggal beliau, tetapi juga dirindukan oleh sebatang kayu. Inilah
kerinduan dari benda padat kepada beliau. Kisah mengharukan ini
disebutkan ahli hadits. Salah satunya adalah Al-Bukhari dalam Shahîh-nya (3/61):
Diriwayatkan bahwa Jabir bin Abdillah radhiallahu’anhu berkata, “Ada seorang wanita Anshar yang berkata kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam,
“Wahai Rasul Allah, maukah saya buatkan untuk Anda tempat yang bisa
Anda duduki (mimbar), karena saya memiliki budak yang ahli pertukangan?”
Beliau menjawab, “Silahkan saja jika kamu mau.”
Maka perempuan itu memerintahkan budaknya untuk membuatkan mimbar untuk beliau. Ketika sedang berkhutbah pada hari Jum’at, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam
duduk di atas mimbar yang sudah dibuat untuk beliau.” Tetapi batang
kurma yang biasa dijadikan tempat Nabi berkhutbah menangis, hingga
hampir terbelah.
Nabi shallallahu’alaihi wa sallam kemudian turun dari
mimbar, dan mendekatinya. Beliau memeluk batang kurma yang merengek
seperti rengekan bayi yang diminta diam, hingga ia tenang.” Beliau
bersabda, “Ia menangis karena berpisah dengan dzikir yang biasa ia
dengar.” (HR. Al-Bukhari, nomor 2095)
Dalam riwayat lain, “Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya,
andai aku tidak menenangkannya, ia akan terus seperti ini hingga Hari
Kiamat tiba karena merindukan Rasulullah.”
Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fath Al-Bâri (6/602)
berkata, “Anas menyebutkan bahwa apabila Al-Hasan menyampaikan hadits
ini, ia berkata, “Wahai kaum muslimin, batang kayu ini merintih karena
rindu bertemu dengan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Kalian seharusnya lebih berhak untuk merindukan beliau.”
Adakah kita merindukan beliau?
Sumber: 155 Kisah Langka Para Salaf, penerbit Pustaka Arafah, hlm. 23-24
https://www.kisahislam.net/2017/10/14/rintihan-sebatang-kayu/
Komentar
Posting Komentar